Hari Bersamamu

Penulis · 6 Oktober 2026 · 2 menit baca · diedit

#bersamamu

★ rekomendasi admin

Pagi itu tidak ada rencana yang muluk-muluk. Hanya sebuah pesan singkat darimu semalam: "Besok aku kosong. Kita jalan, ya?" Kalimat sederhana yang sudah cukup untuk membuatku tersenyum hingga tertidur. Saat kita akhirnya bertemu di peron stasiun, kau mengenakan kemeja flanel kebiruan yang lengannya kau gulung sebatas siku. Rambutmu sedikit berantakan karena angin musim kemarau, tapi senyummu—seperti biasa—selalu berhasil membuat dunia yang tadinya bising menjadi seketika tenang.


"Mau ke mana kita hari ini?" tanyaku saat kau menyamakan langkah di sisiku.


Tanpa ragu, kau menautkan jemarimu di antara jemariku, memasukkannya ke dalam saku jaketmu agar tidak kedinginan. "Ke mana saja. Ke tempat di mana aku bisa mendengar ceritamu tanpa harus melihat jam tangan."


Kita berakhir di sebuah toko buku tua yang merangkap sebagai kedai kopi di sudut kota. Aroma kertas usang yang manis dan pahitnya biji kopi yang baru diseduh langsung memeluk penciuman kami. Kita menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Kau asyik membolak-balik halaman sebuah novel fiksi ilmiah, sementara aku justru lebih sibuk memperhatikanmu. Aku mengamati bagaimana alismu sedikit bertaut saat membaca paragraf yang rumit, dan bagaimana tawamu renyah mengudara saat kau menemukan bagian yang konyol. Di momen yang begitu sederhana itu, aku sadar bahwa melihatmu ada di sini, bernapas di ruang yang sama denganku, adalah tontonan favoritku.


Menjelang sore, langit kota yang tadinya cerah tiba-tiba merajuk. Hujan deras turun tanpa aba-aba, memaksa kita berlari mencari tempat berteduh di bawah kanopi sebuah toko kaset yang sudah tutup. Napas kita terengah-engah, bahu kita sedikit basah, tapi tawa kita justru pecah mengalahkan riuhnya air yang menghantam aspal jalanan.


Kau menoleh, lalu dengan lembut mengusap rintik air dari ujung rambutku. "Maaf ya, rencananya kita mau jalan ke taman sore ini, malah jadi terjebak hujan."


Aku menggeleng pelan, menatap matamu yang teduh. Berdekatan denganmu di bawah kanopi sempit ini, ditemani aroma petrikor dan wangi parfummu yang selalu menenangkan, terasa jauh lebih sempurna dari taman mana pun di kota ini.


"Dingin?" tanyamu, memajukan langkah agar bahu kita saling bersentuhan, memberikan kehangatan yang tak perlu diucapkan.


"Tidak, selama kamu di sini," jawabku pelan.


Hari itu tidak diisi dengan makan malam di restoran mewah, tidak ada tiket pertunjukan mahal, atau perjalanan ke tempat-tempat spektakuler yang sering dipamerkan orang di sosial media. Kita hanya berjalan kaki tanpa tujuan, membiarkan sepatu kita basah oleh genangan air, dan membagikan cerita-cerita kecil yang mungkin tak berarti bagi dunia. Namun, saat langit perlahan memudar menjadi jingga kemerahan dan kau mengantarku pulang hingga ke depan pagar, aku menemukan sebuah kebenaran yang sederhana.


Hari yang paling biasa akan selalu berubah menjadi luar biasa, selama aku menghabiskannya bersamamu.

1 komentar

Catatan pembaca (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.